Kamis, 30 Juni 2011

Seragam Kelas


Seragam itu, tak pernah terjamah lagi



Wanita itu keluar. Dia tepat dibelakangku, tepat keluar dari pintu saat aku beberapa langkah di depannya.

“Ada…Ada….tunggu sebentar” ucap wanita itu.

Wanita itu, wanita dengan gamis dan jilbab lebar itu adalah dosenku. Dosen kemahasiswaaan. Dosen yang paling akrab dan paling banyak tahu tentang mahasiswanya. Dosen yang lebih mengerti mahasiswa dibandingkan dosen lain pada kampus ini. Bagiku dia dosen sekaligus kakak. Sekaligus guru, sekaligus ibu yang amat menyenyangkan dan baik hati. Dosen yang mungkin senafas dengan apa yang aku fahami dari mas Emer. Yah, dosen itu sekarang adalah sosok pengganti mas Emer yang telah pergi.

“Ada apa bu? Tanyaku." Sembari berjalan menuju kearah beliau.“Kenapa nggak pake sragam kelas hari ini.” Tanyanya


“ Saya masih belum punya alasan bu,” ucapku. Setengah berbisik.Lorong ruang dalam kampus nampak cukup lengang, meski ada beberapa mahasiswa yang hilir mudik di jalan antara dua ruang itu. Kami berada disana, yah berada dalam lorong itu, lorong aneh.



“Lha kenapa, to? Kok nggak mau pake seragam?” tanyanya kembali sembari menoleh ke kanan kiri.Aku semakin tak mengerti. Aha, atau jangan-jangan karena didalam kelas tadi aku Cuma klentrak-klentruk? Ah, itu bukan alasan kenapa aku diintrogasi oleh dosen ini. Oh, seragam kelas. Aku hari ini memang tengah tidak menggunakannya. Jelas. Ini adalah most trouble maker yang memempel pada tubuhku. Ah, kenapa dengan dosen ini? kenapa? Kenapa? Kenapa beliau menanyaiku dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Ya, bu. Ya, aku salah karena tidak mengenakan seragam. Memang itu salahku. Tapi jelas tergambar bagaimana alasan yang tak aku ungkapkan kepada beliau. Ya, alasan berupa kejadian kongkrit yang tak aku ungkapkan.



Aku hanya menggaruk kepala, sembari cengas-cenges menatap bendahara itu. Pikirku mana mungkin aku dengan cepat mendapat uang sebesar itu, upah jaga warung memang bisa diandalkan, tapi itu baru dapat diambil setelah tanggal 1 tiap bulannya.

“Iya deh, aku tahu kok” jawabnya
“ Da, ikut ibu ke kantor” ucap wanita bergamis itu.
“ Sudah, sekarang katakanlah alasanmu pada ibu. Kenapa hari ini nggak pake seragam lagi?”



Wanita bergamis itu merogoh sakunya, tak pernah berfikir aku tentang hal itu. Beliau mengeluarkan lembaran kertas berwarna biru. Nominal sangat fantastis bagiku. Bagi seorang Ada Irsyad Hakim. Bagi seorang mahasiwa yang menjadi penjaga warung di sore harinya. Dia menjulurkan itu kepadaku.
BOOM, pikiranku kalap. Terbang kemana-mana, termasuk mengingat saat simbah memberiku duapuluh ribu saat aku masuk Kuliah. Pemberian Dua puluh ribu pertamaku, sekaligus yang terakhir dari simbah. Kejadian itu terulang kembali.
“ Dinggo sangu le. Simbah raiso ngenehi akeh, sithik eding muga iso nambah lehmu tuku es lan jajanmu raketan munk sithik-sithik (buat uang saku nak, simbah tidak dapat memberi banyak. Sedikit-sedikit semoga bisa menambah uang buat belie s dan jajanmu, ya meski hanya sedikit)”



“Terimalah ini,” bujuk dosen itu.
Dosen itu bergeming. “terima saja, buat jajan kamu” ucapnya.
“Tidak bu…tidak” ucapku.
“Tidak bu, tidak.” Ucapku.
“Tidak bu, terimakasih.” Jawabku sembari memutar badan lalu segera beranjak pergi menjauhinya.
Maaf bu, maaf, ucapku dalam hati.
“ Hey ternyata baju ini berwarna krem, bukan kuning” ucapku pada teman disebelahku.
“hahahahahaha” kami berkelakar bersama.

TAMAT

2 komentar:

Obing mengatakan...

toko blog berkunjung di blog yang bagus ini gan... slam kenal

kang ocol mengatakan...

siph....
salam kenal juga ya....